Deri Anggraini: Tak Selamanya Filsafat
itu Membingungkan
Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata filsafat? Filsafat dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa lainnya Falsafah (Arab), Philosophy (Inggris), Philosophia (Latin), Philosophie (Jerman, Belanda, Prancis), Philosophia (Yunani). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:317), filsafat adalah 1)pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2)teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3)ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemology, dan 4)falsafah.
Plato (427SM – 347SM) seorang filsuf yunani yang termasyhur, murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). Aristoteles (384 SM – 322SM) mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya. Al-farabi (meninggal 950m), filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Ya, itulah beberapa pendapat tentang definisi filsafat, berdasarkan kamus dan juga filsuf-filsuf ternama.
Siapa bilang belajar Filsafat itu membingungkan? Tidak demikiannya halnya ketika kita belajar bersama Prof. Marsigit. Seperti dalam video Filsafat Bagian 1 yang tersaji di https://youtu.be/8t3lalvQbiQ, beliau menggunakan model mind mapping dalam penyampaiannya. Dengan jelas beliau memaparkan satu demi satu konsep pemikiran dalam filsafat. Prof. Marsigit mampu mengonkretkan yang abstrak, bukan sebaliknya mengabstrakkan yang konkret. Setiap kalimat yang beliau ucapkan memang awalnya membawa pikiran pendengarnya melayang seketika mencoba memikirkan makna di balik kalimat yang beliau ucapkan. Namun, pada akhirnya pendengar pun akan diajak manggut-manggut secara otomatis mengiyakan kalimat yang beliau ucapkan. Beruntung sekali saya memiliki kesempatan ngangsu kawruh dari beliau babagan filsafat.
Siapa bilang belajar filsafat itu bisa membuat seseorang menjadi gila? Tidak demikian halnya ketika kita belajar kepada orang yang tepat, seorang filsuf pendidikan yang humanis dan spiritualis. Beberapa konsep pemikiran filsafat yang bisa kita dapat dari video ini di antaranya, sebagai berikut.
1. Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan
Mengapa manusia tidak sempurna? Menurut beliau, hidup manusia itu metafisik. Manusia hidup dalam ketidaksempurnaan. Kalau sempurna, manusia tidak akan bisa hidup. Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan. Setelah yang ada, masih akan ada lagi. Sebelum yang ada, masih ada lagi, lagi, dan lagi. Begitu seterusnya. Maju tidak selesai, mundur pun tidak selesai. Masih kacau itu tandanya manusia masih hidup. Kalau sudah tidak ada kekacauan berarti sudah tidak ada kehidupan.
2. Awal dari semua kegiatan manusia adalah fatal dan vital
Fatal berhubungan dengan beberapa diksi berikut: terpilih, takdir, idealism, absolutism, spiritualisme, kuasa Tuhan, yang muaranya adalah kausa prima (sebab dari segala sebab). Bicara tentang fatal, bicara kita tentang metafisika (sifat di balik sifat, sifat mendahulukan sifat, sifat mengikuti sifat, sifat mempunyai sifat). Sebenar-benarnya manusia, sifat mengikuti sifat. Fatal juga berhubungan dengan logika, coherentism, analitisme, konsisten, aksioma, teorema, langit, dewa, aturan/hukum, formal, apriori, dan normative. Fatal bersifat tetap, tidak ada yang bisa mengalahkan takdir, kecuali kuasa Tuhan. Sementara itu, vital berhubungan erat dengan memilih, ikhtiar, dan berubah. Vital juga berkaitan dengan realism, materialism (benda), corespondentism, hukum alam, sintetik, bayangan, bumi, daksa, persepsi, posteriori, analisis, pengalaman, empirisme, dan pluralism. Kehidupan tidak ada apa-apanya tanpa fatal. Kehidupan juga tidak ada apa-apanya tanpa vital. Hilang salah satu (fatal atau vital) tidak ada kehidupan.
3. Manusia bermasalah dengan dirinya dan orang lain karena tidak menguasai dunia dan bahasanya
Hidup di dunia itu kontrakdiksi. Seperti halnya kontrakdiksi antara Permenides yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu tetap dan Herakleitos yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu berubah. A A merupakan hukum kontradiksi, sedangan A = A merupakan hukum identitas. A= A hanya ada di pikiran, tidak ada dalam realita. Idealisme hanya ada dalam pikiran, tidak ada dalam realita. Dalam dunia modern (dualism), A= A + 1 yaitu perpaduan apriori dan sintetik (dipelopori Immanuel Kant).
Kesimpulan yang bisa diperoleh, pertama, kita perlu mensyukuri ketidaksempurnaan yang kita miliki. Dengan ketidaksempurnaan, kita kemudian belajar dan berjuang untuk menyempurnakan hidup kita masing-masing.
Deri Anggraini, NPM 20706261005, S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar