Minggu, 20 Desember 2020

Deri Anggraini Bicara Tentang Aturan Emas

 Sering kita dengar kalimat bijak “Hargailah orang lain sebagaimana engkau ingin dihargai”. Sebuah kalimat yang mengandung pesan agar kita senantiasa menghargai orang lain. Ternyata pesan itu sejalan dengan apa yang tertulis di dalam aturan emas (the golden rule). Lorens Bagus menuliskan dalam Kamus Filsafat (2005:104):

1.    Secara positif aturan itu berbunyi: “Berbuatlah kepada orang lain seperti yang Anda inginkan orang lain berbuat kepadamu”.

2.    Secara negatif aturan itu berbunyi: “Jangan berbuat kepada orang lain apa yang tidak Anda inginkan orang lain berbuat kepadamu”.

        Aturan emas itu perlu selalu kita ingat. Bila kamu ingin disayangi teman-temanmu, sayangilah temanmu. Bila kamu ingin diperhatikan, perhatikanlah orang lain. Bila kamu tidak ingin dikhianati, janganlah mengkhianati. Bila kamu tidak ingin dipukul, janganlah memukul. Hendaknya aturan emas ini senantiasa menjadi pegangan demi terwujudnya kedamaian di atas muka bumi ini. 

Deri Anggraini, NPM 20706261005, S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Yogyakarta

Deri Anggraini: Manusia, Antara Identitas dan Kontradiksi

Membaca tulisan Prof. Dr. Marsigit, M.A. berjudul Aturan yang tersaji di https://powermathematics.blogspot.com/2017/09/aturan.html, pembaca awam akan dibuat mengernyitkan dahi tentang definisi filosofis aturan. Aturan berkaitan dengan identitas (meliputi aturan identitas absolut dan aturan identitas relatif) juga kontradiksi. Prof. Marsigit menyebut identitas sebagai tepat sama. mengutip tulisan beliau “Identitas_ adalah _tepat sama_. Identitas itu ada di langit, turun hanya sampai hati dan pikiran manusia. Tiadalah ada yang bisa _tepat sama_ dengan dirinya sendiri kecuali Tuhan. Atau bisa engkau tepat sama dengan dirimu sendiri, tetapi hanya dimisalkan di pikiran”.

Bila kita membuka Kamus Filsafat, makna yang sama akan kita jumpai. Seperti yang disebutkan Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat (2005:303-304) bahwa identitas (dalam bahasa Inggris identity dan dalam bahasa Latin idem yang berarti sama) memiliki tiga arti. Pertama, persis sama, suatu hubungan kesamaan atau kemiripan yang lengkap dan mutlak antara dua hal, serta mengacu pada identitas ketat. Kedua, bukan suatu hubungan kesamaan atau keserupaan antara dua hal, tetapi suatu hubungan arti yang tetap sama dalam penerapan kita dari hal itu, antara nama (tanda, symbol) suatu hal dan hal (benda) yang dinamakan. Ketiga, suatu hubungan kesamaan yang ada di antara (di dalam) nama-nama itu sendiri yang mengacu pada arti-arti atau hal-hal yang sama.

Beberapa pengertian Kontrakdiksi (Bagus, 2015:494): 1) pernyataan mana saja yang memang (dengan sendirinya) – menurut definisi logis – selalu salah, 2) pernyataan apa saja yang kesimpulan akhirnya kebenarannya salah, 3) negasi terhadap suatu pernyataan, 4) kategori yang menunjukkan sumber internal semua gerak dan perkembangan (yang bersifat eksternal).  Menurut Prof. Dr. Marsigit, M.A., kontradiksi itu domisilinya ada di kenyataan. Karena tidak ada kenyataan sama dengan diri sendiri, sebenar-benar kenyataan hidup adalah kontradiksi.

Ada dua macam aturan identitas dan kontradiksi. Ada dua macam aturan identitas yaitu aturan identitas absolut (milik Tuhan) dan aturan identitas relatif (pikiran manusia). Prof. Marsigit menyebut aturan identitas adalah pedoman hidup manusia, semua perintah Tuhan adalah aturan identitas absolut. Identitas berdomisili dalam kuasa Tuhan dan pikiran manusia (internal), sementara kontradiksi berdomisili dalam kenyataan (eksternal). Kesimpulan yang dapat ditarik tentang aturan adalah aturan yang berasal dari Tuhan  (semua perintah Tuhan) dan aturan yang dibuat manusia serta kenyataan yang ada. Pada kenyataannya, manusia seringkali bertindak tidak sesuai aturan identitas absolut dan relatif.

 

Deri Anggraini, NPM 20706261005, S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Yogyakarta  

Selasa, 22 September 2020

 Deri Anggraini: Tak Selamanya Filsafat itu Membingungkan

              Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata filsafat? Filsafat dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa lainnya Falsafah (Arab), Philosophy (Inggris), Philosophia (Latin), Philosophie (Jerman, Belanda, Prancis), Philosophia (Yunani). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:317), filsafat adalah 1)pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya; 2)teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan; 3)ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemology, dan 4)falsafah.

Plato (427SM – 347SM) seorang filsuf yunani yang termasyhur, murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). Aristoteles (384 SM – 322SM) mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).

Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya. Al-farabi (meninggal 950m), filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Ya, itulah beberapa pendapat tentang definisi filsafat, berdasarkan kamus dan juga filsuf-filsuf ternama.

Siapa bilang belajar Filsafat itu membingungkan? Tidak demikiannya halnya ketika kita belajar bersama Prof. Marsigit. Seperti dalam video Filsafat Bagian 1 yang tersaji di https://youtu.be/8t3lalvQbiQ, beliau menggunakan model mind mapping dalam penyampaiannya. Dengan jelas beliau memaparkan satu demi satu konsep pemikiran dalam filsafat. Prof. Marsigit mampu mengonkretkan yang abstrak, bukan sebaliknya mengabstrakkan yang konkret. Setiap kalimat yang beliau ucapkan memang awalnya membawa pikiran pendengarnya melayang seketika mencoba memikirkan makna di balik kalimat yang beliau ucapkan. Namun, pada akhirnya pendengar pun akan diajak manggut-manggut secara otomatis mengiyakan kalimat yang beliau ucapkan. Beruntung sekali saya memiliki kesempatan ngangsu kawruh dari beliau babagan filsafat.

Siapa bilang belajar filsafat itu bisa membuat seseorang menjadi gila? Tidak demikian halnya ketika kita belajar kepada orang yang tepat, seorang filsuf pendidikan yang humanis dan spiritualis. Beberapa konsep pemikiran filsafat yang bisa kita dapat dari video ini di antaranya, sebagai berikut.

1.    Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan

Mengapa manusia tidak sempurna? Menurut beliau, hidup manusia itu metafisik. Manusia hidup dalam ketidaksempurnaan. Kalau sempurna, manusia tidak akan bisa hidup. Manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan. Setelah yang ada, masih akan ada lagi. Sebelum yang ada, masih ada lagi, lagi, dan lagi. Begitu seterusnya. Maju tidak selesai, mundur pun tidak selesai. Masih kacau itu tandanya manusia masih hidup. Kalau sudah tidak ada kekacauan berarti sudah tidak ada kehidupan.

 

2.    Awal dari semua kegiatan manusia adalah fatal dan vital

Fatal berhubungan dengan beberapa diksi berikut: terpilih, takdir, idealism, absolutism, spiritualisme, kuasa Tuhan, yang muaranya adalah kausa prima (sebab dari segala sebab). Bicara tentang fatal, bicara kita tentang metafisika (sifat di balik sifat, sifat mendahulukan sifat, sifat mengikuti sifat, sifat mempunyai sifat). Sebenar-benarnya manusia, sifat mengikuti sifat.  Fatal juga berhubungan dengan logika, coherentism, analitisme, konsisten, aksioma, teorema, langit, dewa, aturan/hukum, formal, apriori, dan normative. Fatal bersifat tetap, tidak ada yang bisa mengalahkan takdir, kecuali kuasa Tuhan. Sementara itu, vital berhubungan erat dengan memilih, ikhtiar, dan berubah. Vital juga berkaitan dengan realism, materialism (benda), corespondentism, hukum alam, sintetik, bayangan, bumi, daksa, persepsi, posteriori, analisis, pengalaman, empirisme, dan pluralism. Kehidupan tidak ada apa-apanya tanpa fatal. Kehidupan juga tidak ada apa-apanya tanpa vital. Hilang salah satu (fatal atau vital) tidak ada kehidupan.

3.    Manusia bermasalah dengan dirinya dan orang lain karena tidak menguasai dunia dan bahasanya

Hidup di dunia itu  kontrakdiksi. Seperti halnya kontrakdiksi antara Permenides yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu tetap dan Herakleitos yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu berubah. A  A merupakan hukum kontradiksi, sedangan A = A merupakan hukum identitas. A= A hanya ada di pikiran, tidak ada dalam realita. Idealisme hanya ada dalam pikiran, tidak ada dalam realita. Dalam dunia modern (dualism), A= A + 1 yaitu perpaduan apriori dan sintetik (dipelopori Immanuel Kant).

Kesimpulan yang bisa diperoleh, pertama, kita perlu mensyukuri ketidaksempurnaan yang kita miliki. Dengan ketidaksempurnaan, kita kemudian belajar dan berjuang untuk menyempurnakan hidup kita masing-masing.                                                                                                               

 Deri Anggraini, NPM 20706261005, S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Yogyakarta 

Deri Anggraini Bicara Tentang Aturan Emas

  Sering kita dengar kalimat bijak “Hargailah orang lain sebagaimana engkau ingin dihargai”. Sebuah kalimat yang mengandung pesan agar kita ...